![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
- Home »
- #macrepair#majasari#kebuncozyhalfiardtridayamanunggal »
- Libur Lebaran di Rumah Tengah Kampung
Judul: Libur Lebaran di Rumah Tengah Kampung
Angin semilir menyapa dedaunan yang rimbun di pekarangan, aroma ketupat dan opor ayam menguar dari dapur kayu di rumah tengah kampung—rumah peninggalan kakek buyut yang kini hanya ramai setahun sekali: saat Lebaran.
Aku, Ria, pulang dari kota dengan suami dan anak-anak, menumpang bus malam dan menyusuri jalanan sempit menuju kampung halaman di ujung desa. Rumah itu masih berdiri kokoh dengan dinding papan, lantai kayu yang berderit tiap diinjak, dan bale bambu di teras yang jadi tempat ngopi para paman-paman.
Pagi hari Lebaran, suara takbir menggema dari mushola kecil di ujung jalan. Kami sekeluarga bersiap salat Ied, mengenakan baju terbaik—meski baju anakku sudah kecipratan kuah opor sejak subuh tadi. Setelah salat, kami bersalaman, menitikkan air mata saat minta maaf ke orangtua, dan saling tertawa melihat sepupu-sepupu yang makin besar dan makin jahil.
Sore hari, halaman rumah jadi arena main petak umpet. Anak-anak berlarian di antara rumpun pisang dan jemuran, tertawa tanpa beban. Sementara itu, ibu dan tante-tante duduk di dapur, mengiris bawang untuk makan malam, bercerita soal masa lalu, dan tak lupa bergosip sedikit tentang si anu yang bawa calon dari luar kota.
Malamnya, suasana makin hangat. Obor dinyalakan di pinggir jalan, dan anak-anak menyalakan kembang api. Kami duduk melingkar di teras, menyeduh kopi kampung dan menikmati rengginang. Langit desa gelap tanpa polusi, bintang-bintang terlihat seperti berlomba-lomba bersinar paling terang.
Lebaran di rumah tengah kampung bukan soal makanan enak atau baju baru, tapi tentang kebersamaan—di mana suara tawa, pelukan hangat, dan aroma kenangan berpadu jadi satu dalam bingkai sederhana, namun tak tergantikan.
Kalau kamu, kenangan libur Lebaran di kampung seperti apa?
| alamat | Mobile : 081291401755 Phone : (0231)999999 | ym |



